Skenario Usang

Karena bertemu denganmu hanyalah sebuah skenario usang (sumber)

Saya mencoba untuk menyeimbangkan langkah. Maklum, pada hari itu saya mengenakan sepasang boots tinggi agar terlihat lebih tinggi. Kepercayaan diri memang sedang diuji. Fisik sudah tampil dengan hampir sempurna dan diharapkan mampu mempertahankan percaya diri: make up kece, bulu mata anti badai, baju baru, aksesoris cantik, dari ujung rambut hingga ujung kaki saya akui saya sudah siap. Inilah sebuah perjuangan untuk tampil menjadi perempuan seutuhnya. Demi bertemu dengannya, bahkan saya harus satu jam berdandan di salon langganan!

Ya, bertemu dengannya, yang sudah setahun lebih saya pendamkan kasih.

Bagaimana dengan mental? Entahlah, yang jelas lidah saya sudah gatal!

Sepanjang langkah menuju kafe paling hits itu, saya melihat beberapa pasangan yang sedang asyik bercengkrama, entah mengenai apa. Mungkin mereka bercerita tentang masa depan. Mungkin mereka bercerita tentang masa lalu yang terkadang terlihat konyol. Mungkin juga bercerita tentang pasangan lainnya. Saya tidak mau tahu. Saya hanya ingin tahu, dia tahu.

Saya menyedot Mocha Latte sambil membaca skenario. Lalu berlatih dengan suara lirih. Mulut komat-kamit, mencoba menghafal satu dialog demi dialog.

"Di mana, Kak?"
"Gue udah di depan Starbucks, lo di mananya, sih?"
"Pojokan ya. Masuk deh. Naaaah, ini gue udah dadah-dadah ke lo!"
"Oke!"

Ya Tuhan, dia pakai sweater hitam dan kacamata itu!

"Apa kabar? Kerjaan gimana?"
"Baik, lo?"
"Not bad, ya gitulah, lembur terus! Eh mau apa? Gue teraktir nih"
"Ih, gak usah"
"Gapapa, today is your day. Mau red velvet? Enak lho"
"Gak ah"
"Masih aja deh kaku. Gue pesen dulu ya, Kak"

SAYA PASTI BISA!

I'll tell you something
I think you'll understand
When I'll say that something

"Eh Kak, gue punya rahasia. Tapi lo jangan bilang siapa-siapa, ya"

Saya mulai menjalankan skenario. 

"Tahu gak, Kak. Gue ini sebenarnya suka sama....."
"Hayo, suka sama siapa?"
"Um, kasi tahu gak, ya?"

Dia menatap saya dengan serius. Matanya tidak mengedip sama sekali. Kedua tangannya ditopangkan di bawah dagunya. Persis seperti anak TK yang sedang mendengarkan gurunya bercerita dongeng secara saksama.

"Gue... Gue suka sama.... sama sesama jenis"
"HAAAAAH?"
"Hehehe"
"Serius?"
"Ya?"
"Kok bisa? Saking pernah disakitin mantan?"
"Nggaaaaak! Hahahaha!"
"Ih, gak nyangka!"
"Hahahaha"
"Becanda ya?"
"Nggak!"
"Hayo?"
"Ih, serius!"
"Masa?"
"Iya!"
"Oh"
"HAHAHAHAHAHAHAAHA"

Saya tertawa dengan keras. Orang-orang di dalam kafe seketika menatap saya dengan sinis. Wong edan! Asu!

"Just kidding, bro! Kalau gue lesbi, gak mungkin gue undang lo ke sini"
"Maksud lo?"
"Ah, masa gak tau?"
"Nggak"
"Bener-bener gak peka apa cuma pura-pura?"
"Kenapa sih?"
"Ih"
"Cerita dong"
"Udah siap mendengarkan, Kak?"
"Siap-siap aja"
"Oke!"

Saya menghela nafas sambil menyedot perlahan Mocha Latte kembali.

"Masih ingat gak setahun lalu kita ada di mal ini. Berdua. Main Zombie. Main motor. Ke Ace Hardware. Nonton Insidious di bangku paling depan. Serius, itu udah tepat 1 tahun lalu"
"Serius? Masa sih?"
"Iya, Kak. Kalau gue gak serius, gue gak akan minta ketemuan sama lo hari ini"
"Lho, bukannya kita janjian biar lo bisa ngambil lipstik dari kakak gue ini?"
"Iya, sih. Tapi cuma sepik aja gue beli dari kakak lo, hehehe"
"Sepik gimana, sih?"
"AAAAAH! Kak, berhenti pura-pura lugu. Ini serius"

Saya kembali menghela nafas. Lalu mengambil sebuah permen Golia dan mengemutnya agar bisa menstabilkan percaya diri.

"Maaf sebelumnya, gue udah banyak bohong sama lo"
"Maksud lo?"
"Setahun lalu gue bilang, gue ada tugas dari Kompas di UI lalu sepulang dari sana gue minta ditemenin ke mal ini sama lo dan someone"
"Masa sih?"
"Iya! Ih, gak ingat sama sekali, Kak? Btw itu semua bohong. Gue ke Depok bukan karena kerjaan. Tapi karena gue terlalu kangen sama lo, Kak!"
"Hahahahaha"
"Gak usah ketawa! Dasar geer!"
"Terus?"
"You don't get it?"
"Maksudnya?"
"Argh, dodol! Gue sayang sama lo!!!!"
"Hah? Hahahahaha! Kok bisa? Ah becanda mulu, nih!"
"Kalau gak percaya, baca blog gue! Gue pernah nulis tentang lo, Kak. Serius. Lo juga pernah bilang suka sama gue kan di depan Azroel? Lo gak pernah mau mengaku sama gue. Entah apa alasannya. Yang jelas, gue emang benar sayang sama lo. Kenapa bisa? Ya gue gak tahu"

Dia terdiam dan menatap dalam kepada saya.

There is no one compares with you
And these memories lose their meaning
When I think of love as something new
Though I know I'll never lose affection

"Gue gak nembak ya, cuma mau mengutarakan. Daripada jerawat gue nambah, hayo? Lo juga gak perlu konfirmasi apa lo masih suka sama gue atau nggak. Gue tau lo jomblo, tapi gue gak tahu hati lo buat siapa. Kalau lo sayang sama gue, lo bisa langsung buktikan, bukan dengan sebatas kalimat I love you. Gue gak butuh itu. Gue juga gak butuh dialog chat sepanjang hari dari lo, karena kita sama-sama sibuk. Lo bisa mengutarakan rasa sayang lo dengan cara sendiri, Tapi kalau lo emang gak suka lagi sama gue, ya gapapa. Tenang, kita masih bisa berteman seperti biasa. Santai, ya..."

Dia tersenyum. Saya membalasnya :)

Hold me close and tell me how you feel
Tell me love is real
Words of love you whisper soft and true
Darling I love you

Let me hear you say the words I long to hear
Darling when you're near
Words of love you whisper soft and true
Darling I love you