MIKIR!



Memang kamu kira saya tidak tahu kalau kamu suka candid saya?

Memang kamu kira saya tidak tahu kalau kamu suka mencuri pandang ke saya?

Memang kamu kira saya tidak tahu kalau kamu suka sama saya?

MIKIR!

Mikir, dong. Saya tidak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui itu semua. Saya bisa mengendus apa yang kamu mau. Jadi, kamu mau saya. Iya? Saya juga mau kamu. Tapi lihat, kita sama-sama saling diam. Tidak ada yang mau mengawali. Tidak ada yang mau mengakhiri. Mungkin kita sama-sama menunggu siapa yang akan mengawali. Mungkin kita akan sama-sama secara perlahan bosan dan mencari pengganti yang lebih baik. Lebih nyaman. Mungkin ini bukan hanya sebuah kemungkinan. Mungkin ini dapat terjadi, bukankah semua manusia diciptakan untuk selalu berubah?

Rasa ini tiba-tiba hilang
Jauh terbang melanglang
Mencari tempat untuk pulang...

"Ayo makan, nanti sakit. Suapin, ya?"
"Nggaaaaak. Pengen tiduuuurrr"

Saya menutup diri dengan selimut. Namun kamu tetap berada di pinggir kasur. Memaksa saya untuk makan.

"Dari pagi belum makan, ih. Satu atau dua suap, ya. Biar gak sakit. Disuapin, deh"

Kamu menarik paksa selimut. Saya merebut. Kamu merayu agar saya mau makan. Saya mengabaikan.

"Lo suruh dia buat suapin gue?"
"Nggak, kok"
"Oh, mungkin lo ya? Udah ngaku aja!"
"Nggak, serius deh"
"Terus siapa?"
"Itu atas inisiatif dia, kok. Aku lihat waktu lauknya udah jadi, dia langsung pertama mengambil. Aku kira buat dia. Ternyata buat kakak"

Mungkin sebuah perhatian bisa menjadi sebuah tanda. Tapi mungkin juga hanya sebuah simpati sebagai seorang teman.

Rasa itu lalu kembali
Namun tetap tiada nyali....
  

1 komentar:

Write komentar