#CHSI : Curahan Hati Seorang Irvinalioni (Edisi : Proses Saya Berhijab)

10.35 13 Comments A+ a-

Proses berhijab saya dari tahun ke tahun.


Berhijab itu kewajiban bagi setiap Muslimah. Namun terkadang banyak alasan Muslimah untuk tidak mengenakan hijab. Alasan paling umum adalah ingin membersihkan hati dahulu. Walaupun salah satu Ustad pernah berkata bahwa membersihkan hati bisa diiringi sambil berhijab.

Well, saya yakin setiap Muslimah sadar akan kewajibannya yang satu ini. Namun saya tidak pernah sama sekali memaksakan teman-teman perempuan Muslim untuk lekas memakai hijab. Termasuk sahabat saya sendiri, yang saya kenal lebih agamis dibandingkan saya yang telah berhijab selama dua tahun. Saya pun tidak pernah menyindir teman agar lekas berhijab. Seperti yang pernah ceritakan sahabat saya ketika berada di dalam suatu masjid.

“Ada hijaber taplak nyindir-nyindir gue pas abis solat. Intinya mereka nyuruh gue berhijab. Ya udah sih, gak usah pake nyindir juga kali,” katanya. Saya hanya terkekeh-kekeh di sampingnya yang bercerita sambil menyetir mobil.

Sekali lagi, saya tidak pernah sama sekali menyuruh atau menyindir teman untuk lekas memakai hijab. Toh bagi saya, mereka sudah tahu akan kewajiban ini. Ingin mengingatkan namun saya merasa tidak pantas, karena saya sendiri bukan hijaber yang belum benar-benar beriman. Saya pun tidak merasa lebih alim dibandingkan mereka.

“Gue mau sih berhijab, tapi nanti kalau hati sudah mantap!”
“Gue mau sih berhijab, tapi mantapin hati dulu. Gue gak mau sampai jadi remaja labil yang buka lepas jilbab atau pakai jilbab karena fashion doang!”

Well, saya hormati alasan mereka. Saya tidak mau terlalu mengusik urusan dia bersama Tuhan. Mau berhijab. Solat. Sedekah. Terserah. Yang penting pertemanan jangan sampai terpecah belah.

----

Sebentar saja kita melihat masa lalu ketika saya pertama kali memakai hijab. Kala itu di hari Jumat yang cerah saat di rumah sedang sendiri, saya melihat banyak pashmina di dalam lemari Mama. Kebetulan beliau memiliki banyak pashmina, kira-kira satu pintu lemari isinya ya itu semua. Sayang sekali barang tersebut jarang dipakai olehnya, karena memang beliau bukan seorang hijaber. Saya iseng untuk memakai pashmina dan menjadikannya sebagai hijab. Saya lalu ber-selfie ria, mengunggahnya ke media sosial, dan komentar positif pun bermunculan.

Saya nekat memakai hijab saat itu juga. Walau iman saya belum kuat. Dan teringat akan pesan Papa untuk menyegerakan pemakaian hijab, karena baginya hijab itu keharusan untuk saya sebagai anak perempuan satu-satunya.

Tidak ada masalah berarti selama berhijab seperti kepanasan. Banyak proses yang saya alami. Pertama saya berhijab dibarengi dengan punuk unta. Itu pun atas perintah Mama. Namun saya merasa risih memakainya karena membuat kepala pusing akibat ikatannya lumayan kencang. Belum lagi ketika para ustad menyarankan untuk tidak memakai barang tersebut karena di dalam satu hadist dikatakan bahwa Muslimah yang memakai punuk unta tidak akan bisa masuk surga, pun mencium wangi surga itu sendiri.

Dua bulan setelah berhijab, saya diberikan ujian. Saya berkenalan dengan lelaki. Berpacaran dengannya. Melakukan hal-hal gila. Putus. Dan penyesalan pun melanda. Walau kegiatan gila itu tidak membuat rusak mahkota, saya tetap saja menyesal. Merasa kotor. Walau kata teman-teman saya hal tersebut sudah wajar ketika pacaran. Namun tetap saja, saya merasa kotor.

 Lho, kok hijaber kayak gini? Gaya berpacaran saya sama mantan kok bisa tidak sehat gini? Kok dia yang katanya jebolan pesantren tidak bisa membimbing saya ke jalan yang benar?

Saya lalu sadar bahwa jebolan pesantren tidak menjamin seseorang bisa benar-benar berada di jalanNya. Saya tidak mau terlalu berharap untuk mendapatkan suami jebolan pesantren lagi. Bullshit!

Berhijab pun banyak prosesnya. Dan saya memang lebih nyaman mengenakan hijab dengan model yang standar saja. Tidak banyak lilitan dan tidak mengenakan jarum pentul. Hanya satu peniti yang saya ikatkan di bawah lipatan hijab yang berada di bawah dagu. Mengulurkan hijab hingga dada pun kini sudah saya jalani, walau terkadang juga tidak sampai situ. Namun saya selalu mengusahakan untuk mengulurkannya. Seperti apa yang pernah dikatakan Nenek bahwa dada perempuan itu salah satu mahkota pula, sehingga harus dijaga dengan menutupinya dengan hijab.

Jika penampilan sudah lumayan menuju ridhoNya, bagaimana dengan sikap saya? Well, hingga sekarang saya masih suka lupa sholat lima waktu. Malas mengaji. Begitulah. Namun saya tetap mengusahakan di dalam kesempatan untuk melakukan itu semua. Pelan-pelan deh.

Perkataan? Saya masih suka blak-blakan dan tidak terlalu banyak pencitraan. Di kala hijaber lain suka memberikan tweet hadist-hadist, saya malah lebih suka memberikan tweet seenak udel sendiri. Terkadang berisi hal-hal yang dewasa banget. Garing-garingan. Sindiran satir. Pokoknya tidak hijaber banget, deh. Namun saya lebih nyaman seperti ini. Saya tidak mau munafik, seperti apa yang dilakukan teman saya di dunia maya. Memberikan wejangan yang diambil dari Alkitab. Namun pada dunia nyata, ia sering berzina. Saya adalah saya, saya hanya ingin bebas berekspresi tanpa (terlalu) mencederai agama dan orang lain.

Saya tidak tahu apakah saya bisa menjadi hijaber selamanya. Saya tidak berani menjamin. Toh bisa saja saya nantinya tidak berhijab. Namun saya tahu memang alangkah lebih baik saya bisa mempertahankan hijab. Agar tidak dicap perempuan labil, seperti kasus Marshanda yang kemarin sepakat untuk tidak kembali mengenakan hijab. Untuk kasus ini akan saya bahas di dalam tulisan berikutnya. Salam.


13 komentar

Write komentar
22 Juli 2014 10.45 delete

alhamdulillah kak, masih banyak diluar sana yg belum menutupnya. hehe pertahankan kak pin :)

Reply
avatar
Tea~time
AUTHOR
22 Juli 2014 10.53 delete

mantep kak curhatnya, berasa angin segar habis baca curhatan ini :D

Reply
avatar
Hf Ananda
AUTHOR
22 Juli 2014 10.54 delete

Hayo, kakpin, jangan sampai lepas hijab ya. Kalau beneran lepas hijab, status kakpin yang tentang marshanda aku screenshoot dan aku mention ke kakpin :p

Suka dengan cerita kakpin. Hijaber yang gag munak itu keren, kak :D

Reply
avatar
Tomi Azami
AUTHOR
22 Juli 2014 11.05 delete

kayaknya baru nemu juga model kaya kapin. hijaber tapi kayak bujan hijaber (?) gak munafik, minim pencitraan, twitnya sering nyablak. itu keren maksimal. lanjutkan kak..

Reply
avatar
Ratri Purwani
AUTHOR
22 Juli 2014 11.48 delete

Duh pin, sama banget sama proses hijrah gue yang sampe sekarang masih pelan. Semoga kita tetep termotivasi untuk istiqamah yaaah :DD

Reply
avatar
22 Juli 2014 16.32 delete

Aha, dapet ilmu baru. Aku baru tau loh ka pin, ternyata berjilbab a la punuk unta itu gak boleh, ya.

Reply
avatar
Emelia Ariska
AUTHOR
22 Juli 2014 17.16 delete

Yg bikin aku mulai membenahi hijab itu kata2 simple ini "pengen cantik dimata manusia yg bukan siapa2, atau dimata Allah yg maha kuasa?"

Hihi bener jga sih. Cantik dimata manusia itu gak ada habisnya, nah klo dimata Allah kan tinggal liat surah al-ahzab 59 dan An-Nur 31 :D

Semangat kakpin! Cepet dapet suami yak hoho .
Karena wanita yg baik utk lelaki yg baik pula, dan begitu jg sebaliknya ({})

Reply
avatar
22 Juli 2014 18.50 delete

Berasa curhatin diri sendiri jadinya haha. Gue berusaha utk jilbaban dari kelas 7, kak. Berusaha bgt kl bisa pas keluar rumah pakai jilbab mulu. Semoga di-Ridhoi Allah. :3

Reply
avatar
22 Juli 2014 21.45 delete

Nggak pernah pake punuk unta. Karena nyokap dulu gak punya begituan. Bersyukur banget mpok gue dulu masuk Rohis dan tau hijab yang bener. Gue bisa buat nyokap pake hijab yang nutup dada sebelum beliau nggak ada ;))

Reply
avatar
Ratri Purwani
AUTHOR
22 Juli 2014 22.38 delete

Nah iniii aku setuju banget sama kamu :D jujur aku salut lho liat kamu hijrah, Mel :)

Reply
avatar
Alfi Zakiah
AUTHOR
11 Agustus 2014 08.28 delete

semga tetep istiqomah

Reply
avatar
1 Oktober 2014 00.01 delete

Semoga tetep konsisten berhijabya sis. Btw, congratz ya buat domain barunya... \^-^/

Reply
avatar
angkisland
AUTHOR
17 Desember 2014 15.49 delete

wah subhanallah semoga istiqomah ya mbak mantap dah mbak ini

Reply
avatar