Saya Rindu Kakak



Saya masih ingat saat pertama kali berjumpa dengannya. Gigi masih dipagari. Rambut gondrong. Muka putih mulus. Hingga saya pun terpana walau agak bertanya-tanya.

Dia normal?

Masih ingat pula saat melihat foto profilnya. Alay. Hilang sudah perasaan terpana saya.

Beberapa bulan kemudian, kami dipertemukan kembali. Dia duduk di samping saya. Menatap saya saat makan. Berbicara. Bercanda. Dan lainnya.

Hingga salah seorang teman berkata, "Dia suka sama kamu. Karena dia selalu ingin dekat denganmu. Tatapan matanya juga berbeda."

Saya terbang mendengar ucapan si teman itu. Sejak saat itu saya mendedikasikan hati untuknya.

Sudah sering saya bersama. Entah sudah berapa kali. Bahkan dia pernah menginap di rumah saya. Kita juga sudah pernah kencan.

Dia sudah mengetahui saya persis. Saya sudah mengatakan padanya tentang masa lalu dan keinginan saya. Namun saya tidak mengetahui dia lebih lanjut lagi. Dia hanya bisa diam saat saya bertanya tentangnya.

Serba salah.

Seringkali saya menganggapnya telah memiliki hati lain. Karena itu saya sering pula menempelkan hati pada yang lain. Walau tidak lama. Dan ujung-ujungnya, saya kembali mengharapkannya lagi.

Pertemuan kembali diadakan. Di tengah dinginnya malam yang terjadi beberapa waktu lalu, kami berbincang berdua di ruang makan.

Dia berusaha menghibur saya. Apakah dia tahu bahwa saya masih mengharapkannya?

Di dalam mobil, kami bertatapan. Salah seorang teman berusaha untuk meledek kami. Saya dan dia salah tingkah.

Dia ingin muntah. Saya pun. Saya lalu menyuruh seorang teman untuk membelikan saya dua obat. Satu untuk saya, satu untuk si dia.

Teringat di tempat pembelian tiket kereta yang ramai, saya berdua dengannya.

Saya sedih tidak bisa satu kereta dengannya karena beda jurusan.

Saat kereta melewati Stasiun Pondok Cina, saya teringat malam itu lagi. Tanggal 28 September 2013 sekitar jam 9 malam. Saat dia mengantarkan saya ke stasiun tersebut dan kami melambaikan tangan.

Dan di dalam kereta saya teringat saat bertemu dengannya di hari raya. Saat saya tertawa tiada henti setelah mendengar cerita lucunya.

Hai, Kak. Kamu adalah pria yang menyebalkan. Pun banyak yang tidak kamu ketahui soal perkembangan sosial, politik, dan hukum di negara ini. Kamu bukan tipe saya. Tapi saya suka kamu. Saya nyaman saat bersamamu. Dan berkali-kali saya memberikan sinyal untuk mengajak kencan, namun kamu sepertinya tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti. Saya tidak tahu kamu mau apa. Atau sayanya saja yang terlalu perasa?

Saya rindu kamu.