Percakapan Dua Hati



Aku mendatangimu dengan cinta yang lemah, pernah luka, pernah dusta, tapi apa adanya.. bukan cinta yang suci dan perkasa tapi dibuat-buat...

Aku mendatangimu dengan kenangannya yang masih memelukku erat. Tak mampu diriku untuk melepaskannya, sungguh berat.

Aku mendatangimu dengan perih. Lalu sambil tersenyum, "Maukah kau balut lukaku, Kasih?"

Aku pun menjawab dengan fasih, "Relakah dirimu menerimaku jika dirinya di benakku belum sempurna bersih?

Aku pun hina. Apa alasanku untuk tak menerimamu yang jua tak sempurna ?

Cintaku padanya belum jua fana. Bayangannya belum jua sirna. Maaf, jika kamu ternyata belum mampu membuatku cukup terlena.

Aku memang belum cukup sempurna tuk membuatmu terlena. Tapi bukankah semuanya hanya tentang seberapa keras kita mencoba ?

Mencoba mencintaimu atas dasar hadirnya sebuah iba? Lebih baik kau bunuh aku saja dan buang mayatku di hutan rimba!

Iba? Tahukah kau iba adalah tanda kesombongan? Dan ketahuilah, bukan aku yang akan membunuhmu! Tapi sombongmu itu!

Oh ya? Ah sudahlah! Ketahuilah, kini aku merasa cinta itu dusta & penuh derita. Bahkan hanya membuatku tampak nista

Katanya, cinta adalah ketika kau mampu bertahan diantara dusta, derita, dan nista. Ah! Rupanya kau hanya berpura-pura!

Siapa yang berpura-pura? Ketahuilah, itu adalah sebuah fakta bahwa memang benar cinta telah banyak memberiku luka. Memberiku bayangan duka. 

Sungguh berat aku menjalani semua ini. Sungguh sudahilah cinta yang cukup membebani. Sungguh, sudahilah sudah pertemuan kita yang penuh ironi. Aku bukan yang terbaik, kamu bukan yang terbaik, dan kita akan menemukan yang terbaik.

Kita sama-sama bukan penyembuh luka hati. Kita hanya orang yang ternyata hanya saling bersimpati.

Twitter, 1 Februari 2014
Sebuah percakapan hati dari @bungjess dan @irvinalioni 
yang tidak sengaja diumbar di Twitter pada siang hari. 
Terimakasih, Jesse :)