Fenomena Preman Berkedok Pengamen



Pada suatu hari saya menjemput beberapa teman blogger dari Bandung, Jogja, dan Jambi. Di antara mereka kebetulan baru pertama kali pergi ke Jakarta. Setelah bertemu dan melepas rindu, akhirnya saya mengajak mereka ke rumah. Saya memberhentikan sebuah bis Patas dan kami semua masuk ke sana. Bis patas tampak ramai dengan kehadiran kami yang berjumlah kurang lebih lima belas orang. Salah satu teman kebetulan membawa gitar dan mengajak kami bernyanyi. Kami pun mengalunkan beberapa lagu di dalam bis dengan sukacita. Suasana bis yang awalnya sepi kini menjadi ramai karena kehadiran kami.

Seorang pria berwajah seram tiba-tiba muncul di dalam bis. Dia adalah preman jalanan berkedok pengamen. Dikatakan preman karena dia hanya bisa berpidato dengan nada bicara seperti orang mabuk. Ujung-ujungnya dia meminta uang kepada penumpang dengan sedikit memaksa. Katanya, “Daripada saya mencuri lebih baik saya meminta uang langsung kepada anda semua.”

Saya dan teman-teman hanya bisa diam tatkala si pria seram itu beraksi. Saya melihat ketegangan dari wajah mereka, mungkin kaget melihat pemandangan tak lazim yang ada di dalam bis. Salah seorang teman perempuan tampak berpura-berpura tidur karena tidak ingin menjadi omelan si pria seram. Memang, si pria tersebut biasanya akan mengomel jika dia menemui penumpang yang tidak memberikannya uang.

Tahu kalau teman saya berpura-pura tidur, si pria itu pun mengomel, “Gak usah pura-pura tidur, deh. Bilang aje emang pelit gak mau ngasi. Percuma lo pake jilbab!”

Semua teman saya terkejut mendengar omelan tersebut. Duh, Jakarta ternyata memang keras, ya, mungkin itu yang dikatakan oleh mereka.

Preman berkedok pengamen menurut saya memang menyebalkan. Mereka seringkali berpidato dengan nada bicara seperti orang mabuk agar penumpang takut dan mau memberikannya uang. Masih mending kalau pidato yang diberikan memang penting. Pidato yang seringkali mereka ucapkan berupa curahan hati mereka yang katanya belum makan, susah mendapatkan pekerjaan, dan lainnya. Saya tahu kalau mereka berbohong. Ah, paling mereka memang malas bekerja dan akhirnya melakukan hal (yang menurut saya) memalukan ini. Tipe orang yang maunya cepat mendapatkan uang tanpa usaha. Harusnya mereka berkaca pada Nicholas James “Nick” Vujicic, seorang pria yang bisa sukses walau tidak memiliki tangan serta kakinya yang sangat mungil. Ah, dasar manusia tidak tahu diri.

Saya benci preman-preman itu. Ingin rasanya saya berteriak lantang sambil menunjukkan poster Nicholas James “Nick” Vujicic. Tapi saya takut mereka membawa senjata tajam atau air keras yang bisa dijadikan senjata ketika ada yang mau melawan. Ah, ya sudahlah, mungkin untuk saat ini saya cukup mendoakan mereka saja semoga cepat kembali ke jalan yang lurus. Amin.

Apakah preman berkedok pengamen dapat dijumpai di kota-kota lainnya?

Tulisan ini sudah pernah ditulis di akun blog Kompasiana saya: http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/23/fenomena-preman-berkedok-pengamen-604116.html.